Buntok (Humas) – Kesalahan bukan akhir dari kehidupan. Pesan itu dibawa Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, Delita Wati Manullang, saat memberikan penyuluhan rohani kepada warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Buntok, Rabu (12/8/2026). Mengangkat tema “Kesempatan Kedua”, penyuluhan merujuk pada Lukas 15:11-24 tentang perumpamaan anak yang hilang.
Delita mengajak warga binaan melihat masa pembinaan sebagai ruang untuk berhenti dari kesalahan masa lalu, bertobat, memperbaiki diri, dan menata kembali kehidupan. Kisah anak yang hilang dalam Lukas 15:11-24 menjadi gambaran bahwa kasih Bapa tetap terbuka bagi orang yang mau kembali.
“Setiap orang dapat melakukan kesalahan, tetapi Tuhan selalu memberikan kesempatan untuk bertobat, memperbaiki diri, dan kembali menjalani kehidupan dengan arah yang lebih baik. Kasih Bapa tidak pernah tertutup bagi mereka yang mau kembali,” ujar Delita.
Menurut Delita, pesan “Kesempatan Kedua” sangat dekat dengan kehidupan warga binaan. Masa menjalani pembinaan dapat digunakan untuk melakukan perubahan, membangun harapan, dan mempersiapkan diri ketika kembali ke tengah masyarakat.
“Setiap orang pernah melakukan kesalahan, tetapi kesalahan bukanlah akhir dari kehidupan. Selalu ada kesempatan kedua untuk berubah, bertobat, memperbaiki diri, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Kiranya melalui pembinaan ini, warga binaan semakin memiliki harapan untuk menatap masa depan bersama Tuhan,” ungkapnya.
Salah seorang petugas Rutan yang mengikuti kegiatan tersebut mengatakan penyuluhan rohani memberi suasana positif bagi warga binaan. Selain mendapatkan pembinaan, warga binaan memiliki ruang untuk mengikuti kegiatan bersama dalam suasana yang lebih ringan.
“Kegiatan seperti ini memberikan suasana positif bagi warga binaan. Mereka tidak hanya mendapatkan pembinaan rohani, tetapi juga bisa merasakan kebersamaan dan kegembiraan melalui kegiatan yang dilaksanakan bersama,” katanya.
Petugas tersebut menilai kegiatan bersama juga membantu menciptakan suasana yang lebih dekat antara warga binaan, petugas, dan penyuluh. Kebersamaan seperti itu menjadi bagian dari rangkaian pembinaan selama berada di Rutan.
“Selain pembinaan rohani, kegiatan seperti perlombaan juga membuat warga binaan lebih antusias. Mereka bisa bersama-sama menikmati kegiatan dalam suasana yang positif,” ujarnya.
Kegiatan penyuluhan diawali dengan pujian yang dipimpin Yemima Pisi, dilanjutkan penyampaian firman Tuhan oleh Delita Wati Manullang, kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Eko Wahyudi.
Usai penyuluhan, kegiatan berlanjut dengan perlombaan untuk menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, yakni lomba makan kerupuk dan sambung lirik lagu kebangsaan. Warga binaan mengikuti perlombaan dengan antusias bersama penyuluh dan petugas Rutan.
Rangkaian kegiatan tersebut membawa pesan sederhana: masa lalu tidak harus menjadi penghalang untuk berubah. Melalui pembinaan rohani dan kegiatan bersama, warga binaan diajak melihat bahwa selalu ada ruang untuk memperbaiki diri dan menyiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat.