Buntok (Humas) – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan melalui Penyuluh Agama Hindu bersama staf Bimas Hindu menghadiri bimbingan dan pelayanan kepada umat di Desa Talio, Kecamatan Karau Kuala, Selasa (7/7/2026).
Kehadiran Kemenag juga menjadi bagian dari pembukaan ritual kematian tingkat akhir agama Hindu Kaharingan, Manenga Lewu , yang dibuka oleh Ketua Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK), Perli Mula.
Mewakili Kemenag Barito Selatan, Penyuluh Agama Hindu Nurhati menyampaikan apresiasi kepada tokoh adat dan masyarakat yang tetap menjalankan pelaksanaan ritual secara tertib sekaligus menghormati keberagaman di lingkungan sekitar.
“Kami mengapresiasi tokoh adat dan masyarakat Desa Talio yang terus menjalankan pelaksanaan ritual adat dengan tertib serta mengedepankan rasa hormat dan toleransi kepada pemeluk agama lain. Nilai inilah yang perlu terus dirawat bersama,” ujar Nurhati.
Ia berharap pelaksanaan Manenga Lewu tetap berjalan sesuai ketentuan adat dan tuntunan keagamaan Hindu Kaharingan sehingga makna sakralnya tetap terpelihara dari generasi ke generasi.
“Ritual yang dilaksanakan hendaknya tidak melampaui batas adat istiadat yang berlaku dan tetap berada dalam konteks ritual keagamaan sebagaimana ditetapkan oleh pahanteran atau tokoh pelaksana Manenga Lewu,” lanjutnya.
Ketua MD-AHK Kabupaten Barito Selatan, Perli Mula , menyampaikan terima kasih atas dukungan Kementerian Agama yang selama ini terus hadir mendampingi umat Hindu Kaharingan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan pelestarian budaya.
“Kami berterima kasih kepada Kementerian Agama Barito Selatan yang terus memberikan dukungan sehingga ritual adat ini dapat berlangsung dengan baik. Kami berharap Manenga Lewu tetap dilestarikan dan kesakralannya terus dijaga,” katanya.
Menurut Perli, Manenga Lewu bukan sekadar tradisi adat, melainkan menjadi wujud penghormatan terakhir kepada para leluhur sesuai ajaran Hindu Kaharingan yang diwariskan turun-temurun.
“Manenga Lewu adalah bukti nyata penghormatan dan bakti kami yang masih hidup kepada para leluhur, agar arwah mereka memperoleh tempat yang abadi sesuai keyakinan kami,” ujarnya.
Ritual Manenga Lewu merupakan prosesi puncak atau tingkat akhir dalam rangkaian upacara kematian masyarakat Dayak Ngaju beragama Hindu Kaharingan di wilayah aliran Sungai Barito.
Prosesi ini dimaknai sebagai penyucian arwah leluhur menuju tempat yang abadi sesuai ajaran agama dan adat yang berlaku.
Acara tersebut juga menghadirkan unsur MR-AHK Karau Kuala, MK-AHK se-Kecamatan Karau Kuala, Sekretaris Desa Talio, para rohaniawan, tokoh agama, tokoh adat, serta umat Hindu dari Desa Talio dan wilayah sekitarnya.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi wujud kerjasama yang baik dalam menjaga kelestarian nilai-nilai adat, agama, dan kerukunan di tengah masyarakat Barito Selatan.