Buntok (Humas) – Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, Nurhati, mengajak warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Buntok membangun kehidupan yang lebih baik dengan mengendalikan pikiran sebagai awal dari setiap perbuatan. Pesan itu disampaikan saat pembinaan keagamaan di Rutan Kelas IIB Buntok, Senin (6/7/2026).
Mengawali pembinaan, Nurhati menyampaikan renungan dari kitab suci Sarasamuccaya sloka 86 yang mengajarkan bahwa pikiran merupakan sumber dari seluruh tindakan dan aktivitas manusia.
"Segala perbuatan berawal dari pikiran. Karena itu, pikiran yang baik akan melahirkan perkataan dan tindakan yang baik pula. Perubahan hidup dimulai dari kemampuan mengendalikan isi pikiran," ujar Nurhati.
Ia mengajak warga binaan menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, bukan sekadar menjalani hukuman.
"Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Mulailah dari cara berpikir yang positif, kemudian diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari," katanya.
Petugas Rutan Kelas IIB Buntok, Irpan, mengapresiasi kegiatan pembinaan keagamaan yang rutin diberikan kepada warga binaan. Menurutnya, pembinaan mental dan spiritual menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter selama menjalani masa pidana.
"Kami berharap materi yang diberikan dapat menjadi bekal bagi warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat," ujar Irpan.
Ia juga mengajak seluruh warga binaan mengikuti setiap kegiatan pembinaan dengan sungguh-sungguh agar manfaatnya benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
"Ikuti setiap pembinaan dengan baik. Apa yang diperoleh hari ini semoga menjadi pegangan untuk memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan yang sama," tambahnya.
Kegiatan berlangsung dengan suasana tertib dan penuh perhatian. Warga binaan mengikuti ibadah singkat serta sesi pembinaan hingga selesai.
Selama kegiatan, Nurhati didampingi Penyuluh Agama Hindu Miyah bersama petugas Rutan, Irpan. Pembinaan berlangsung interaktif dengan dialog sederhana yang memberi ruang bagi warga binaan untuk berbagi pengalaman dan memperdalam pemahaman terhadap materi yang disampaikan.
Melalui pembinaan keagamaan yang dilakukan secara berkelanjutan, diharapkan warga binaan memiliki bekal spiritual, mampu mengendalikan diri, serta siap kembali ke masyarakat dengan semangat menjalani kehidupan yang lebih baik.