Buntok (Humas) – Kisah Ayub tentang ketabahan menghadapi kehilangan dan penderitaan menjadi bahan refleksi bagi warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Buntok. Pesan itu disampaikan Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Barito Selatan, Delita Wati Manullang, saat memberikan pembinaan rohani kepada warga binaan, Rabu (23/9/2026).
Pembinaan tersebut menjadi bagian dari pendampingan keagamaan yang dilakukan Kemenag Barito Selatan untuk membantu warga binaan tetap memiliki pengharapan dan menjadikan masa menjalani pidana sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.
Kepala Seksi Bimas Kristen Kemenag Barito Selatan, Hesti Rayani, mengapresiasi penyuluh yang terus memberikan pendampingan keagamaan kepada warga binaan di Rutan Buntok.
“Kehadiran penyuluh di tempat seperti rutan ini punya arti besar. Kita ingin pembinaan rohani ini memberi dampak nyata, sehingga ketika warga binaan bebas dan kembali ke tengah masyarakat kelak, mereka sudah punya bekal mental dan spiritual yang jauh lebih siap,” kata Hesti di sela-sela kegiatan.
Menurut Hesti, pembinaan keagamaan membutuhkan pendampingan yang konsisten. Selain memberikan penguatan iman, kehadiran penyuluh juga menjadi ruang bagi warga binaan untuk memperoleh dukungan moral selama menjalani proses pembinaan.
“Perubahan karakter itu butuh proses panjang. Kehadiran kita secara rutin di sini adalah bentuk dukungan moral agar mereka merasa tetap dirangkul dan diperhatikan oleh negara,” lanjut Hesti.
Dalam penyuluhan tersebut, Delita membawakan materi bertajuk “Kesalehan Ayub yang Teruji”. Ia mengajak warga binaan melihat kembali kisah Ayub dalam Kitab Ayub, terutama tentang bagaimana seseorang mempertahankan iman ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Kesalehan seseorang tidak hanya diukur ketika hidupnya berjalan mulus dan menyenangkan. Iman yang sejati justru teruji dan makin nyata saat kita dihantam penderitaan, kehilangan, serta situasi yang tidak sesuai harapan,” tutur Delita.
Delita menjelaskan, Ayub tetap mempertahankan kepercayaannya meski menghadapi kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan. Menurutnya, kisah tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi warga binaan untuk menghadapi masa sulit sekaligus memandang kehidupan setelah menjalani masa pidana.
“Setiap orang pasti punya pergumulan hidup masing-masing. Melalui kisah ini, kita belajar untuk tidak cepat menyerah pada keadaan. Jangan sampai masa lalu menghentikan langkah kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Pembinaan berlangsung dalam suasana hangat dan khidmat. Selain penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan pujian dan doa bersama yang dipimpin Eko Wahyudi. Petugas Rutan Buntok turut mengikuti kegiatan bersama warga binaan.
Bagi Kemenag Barito Selatan, pembinaan keagamaan di rutan menjadi salah satu ruang untuk membantu warga binaan melakukan refleksi dan mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat. Nilai-nilai yang disampaikan melalui pendampingan rohani diharapkan dapat menjadi bekal bagi mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.