Buntok (Humas) – Kemampuan menguasai teknologi semakin penting bagi generasi muda, termasuk santri di lingkungan pendidikan Islam. Kepala Seksi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, Zakirurrahman, mengikuti pertemuan virtual peluncuran Program Robotika untuk Negeri yang diinisiasi Kementerian Agama RI bersama Sekretariat Wakil Presiden RI dan Persatuan Robotika Seluruh Indonesia.
Program yang dimotori Direktorat Jenderal Pendidikan Pesantren tersebut diarahkan untuk memperluas akses pembelajaran robotika, teknologi digital, dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), khususnya bagi generasi muda di lingkungan pendidikan keagamaan dan pesantren.
Penguasaan teknologi tidak cukup berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat digital. Santri juga perlu mendapat kesempatan untuk memahami cara kerja teknologi, mengembangkan gagasan, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
“Perkembangan teknologi perlu menjadi perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan Islam. Santri tidak hanya perlu dibekali pengetahuan agama, tetapi juga perlu diberi ruang untuk mengenal teknologi, mengembangkan keterampilan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan di masa depan.” Ujar Zakirurahman
Program Robotika untuk Negeri juga membuka arah pengembangan pendidikan yang mendorong generasi muda menjadi pencipta inovasi, bukan sekadar pengguna teknologi. Pembelajaran robotika dapat menjadi sarana untuk melatih kreativitas, ketelitian, kemampuan berpikir logis, dan pemecahan masalah.
“Kami melihat pengenalan robotika dan kecerdasan buatan sebagai peluang untuk memperluas wawasan peserta didik. Jika didukung pembelajaran yang tepat dan fasilitas yang memadai, santri dapat mengembangkan kemampuan untuk menghasilkan karya teknologi yang berguna bagi lingkungan sekitarnya.” jelasnya
Bagi jajaran Pendidikan Islam di daerah, program ini menjadi informasi penting untuk melihat perkembangan arah kebijakan pendidikan keagamaan. Penerapan pembelajaran berbasis teknologi tetap perlu memperhatikan kesiapan tenaga pendidik, sarana pendukung, serta kebutuhan masing-masing lembaga pendidikan.
“Pengembangan keterampilan digital perlu direncanakan sesuai dengan kondisi lembaga pendidikan. Kesiapan tenaga pendidik, ketersediaan sarana, dan kesempatan belajar bagi peserta didik menjadi hal yang perlu diperhatikan agar pengenalan teknologi tidak berhenti pada teori, tetapi dapat berkembang menjadi keterampilan nyata.” tambah Zakirurahman.
Di sisi lain, kemajuan teknologi juga perlu berjalan seiring dengan pembentukan karakter dan penguatan nilai keagamaan. Kemampuan menggunakan teknologi harus disertai tanggung jawab, etika, dan pemahaman mengenai manfaat serta risiko penggunaannya.
“Kemampuan teknologi harus berjalan bersama pembentukan karakter. Kita berharap generasi muda, termasuk santri, mampu memanfaatkan kemajuan digital secara bijak, menjaga etika, dan menghasilkan inovasi yang membawa manfaat bagi masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan.” tutupnya
Melalui peluncuran Program Robotika untuk Negeri, Kementerian Agama mendorong terbukanya kesempatan bagi generasi muda di lingkungan pendidikan keagamaan untuk mengenal perkembangan teknologi. Bagi pendidikan Islam, langkah ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan peserta didik yang memiliki bekal keagamaan, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.