Buntok (Humas) – Kabut asap yang melanda Kabupaten Barito Selatan menjadi perhatian dalam pelaksanaan pendidikan anak usia dini. Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Pendis) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, Zakirurahman, meminta guru Raudhatul Athfal (RA) mengutamakan kesehatan dan keselamatan anak melalui pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR), tanpa mengabaikan mutu pembelajaran dan pendidikan keagamaan.Rabu,(21/10/2026).
Arahan tersebut disampaikan Zakirurahman dalam pertemuan rutin Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kabupaten Barito Selatan di RA Al-Wardah Buntok. Kegiatan ini dihadiri Pengawas RA Noratikah serta para guru RA dari berbagai wilayah di Kabupaten Barito Selatan.
Zakirurahman menyampaikan bahwa pengalihan pembelajaran dari tatap muka ke BDR merupakan langkah untuk mengurangi risiko paparan polusi udara terhadap anak usia dini dan tenaga pendidik. Pelaksanaannya perlu mengikuti edaran yang berlaku, dengan tetap memperhatikan kondisi serta kemampuan masing-masing peserta didik.
“Keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas. Dalam kondisi kabut asap, pembelajaran perlu menyesuaikan keadaan agar anak tetap terlindungi, tetapi hak mereka untuk memperoleh pendidikan juga tetap terpenuhi,” ujar Zakirurahman.
Ia meminta guru tidak sekadar memindahkan kegiatan belajar di kelas ke rumah. Materi BDR perlu dirancang lebih fleksibel, kreatif, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak, sehingga orang tua tidak terbebani dan anak tetap dapat belajar dengan nyaman.
“Belajar dari rumah bukan berarti anak harus mengerjakan banyak tugas. Guru perlu menyiapkan kegiatan yang sederhana, menarik, dan sesuai usia anak, sehingga proses belajar tetap menyenangkan meskipun dilakukan dari rumah,” tambahnya.
Selain pembelajaran umum, Zakirurahman mengingatkan agar pendidikan keagamaan di RA tetap berjalan. Guru dapat memanfaatkan pendampingan jarak jauh untuk membimbing anak mengenal doa sehari-hari, membiasakan perilaku baik, serta mempelajari nilai-nilai keagamaan melalui aktivitas yang mudah dilakukan bersama keluarga.
Komunikasi antara guru dan orang tua juga perlu dijaga agar pelaksanaan BDR berjalan sesuai kebutuhan anak. Dengan komunikasi yang baik, guru dapat mengetahui perkembangan belajar peserta didik sekaligus membantu orang tua apabila menemui kendala selama mendampingi anak di rumah.
Pengawas RA Noratikah menyampaikan bahwa pihaknya akan terus mendampingi guru dalam menyusun modul dan kegiatan BDR yang ramah anak. Pendampingan tersebut diperlukan agar materi yang diberikan tetap sesuai dengan usia, kemampuan, serta kondisi peserta didik selama kabut asap berlangsung.
“Guru perlu mendapatkan pendampingan agar kegiatan BDR tetap terarah dan tidak membebani anak. Kami berharap para guru dapat saling berbagi pengalaman dan mencari cara pembelajaran yang sesuai dengan kondisi keluarga masing-masing,” ujar Noratikah.
Melalui pertemuan rutin IGRA ini, para guru RA di Kabupaten Barito Selatan diharapkan dapat menyamakan langkah dalam melaksanakan pembelajaran selama kondisi kabut asap, sekaligus berbagi gagasan untuk menjaga kegiatan belajar tetap berjalan.
Kemenag Barito Selatan berharap penyesuaian metode pembelajaran tersebut dapat melindungi kesehatan anak dan tenaga pendidik, sekaligus menjaga keberlangsungan pendidikan usia dini. Dengan materi yang ramah anak, komunikasi aktif dengan orang tua, dan pendampingan guru, BDR diharapkan tetap menjadi ruang belajar yang aman, menyenangkan, dan bermakna.