Buntok (Humas) – Perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Bagi Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, Miyah, perubahan justru dapat berawal dari cara seseorang mengelola pikirannya. Pesan itu disampaikan saat pembinaan keagamaan bagi warga binaan di Rutan Kelas IIB Buntok dengan tema “Pikiran yang Benar”, berlandaskan Kitab Saramuscaya Sloka 80.
Miyah mengatakan pikiran memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang melihat dirinya sendiri, orang lain, hingga menentukan tindakan yang akan dilakukan.
“Pikiran layaknya sebuah pena yang akan menggores jejak baru atau sekadar menebalkan jejak lama dalam pandangan seseorang,” ujar Miyah.
Menurutnya, pikiran yang benar dapat dilihat dari dua sisi, yakni pasif dan aktif. Pada sisi pasif, seseorang belajar menjauhkan pikiran dari hal-hal negatif agar tidak berkembang menjadi kebencian, keserakahan maupun tindakan yang merugikan.
Miyah menjelaskan, terdapat tiga ciri pikiran yang benar dari sisi pasif, yakni tanpa kemelekatan atau keserakahan (Niskama), tanpa niat jahat atau kebencian (Awyapada), serta tanpa kekejaman (Ahimsa).
“Pikiran yang benar bukan hanya tentang apa yang kita pikirkan, tetapi juga bagaimana kita melatih diri agar tidak menguasai keserakahan, kebencian dan kekejaman,” katanya.
Sementara pada sisi aktif, pikiran benar diarahkan untuk melahirkan sikap positif dalam kehidupan. Tiga bentuknya adalah Dana atau memberi, Maitri atau cinta kasih, serta Karuna atau welas asih.
Miyah juga mengajak warga binaan mengembangkan kebahagiaan simpati (Mudita), ketenangan dan keseimbangan batin (Upeksa), memaafkan (Ksama), serta keyakinan (Sraddha).
Pesan tersebut mendapat respon positif dari Fais yang menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan pembinaan keagamaan yang dilakukan para penyuluh, khususnya Penyuluh Agama Hindu, bagi warga binaan Rutan Kelas IIB Buntok.
“Senang sekali para penyuluh, khususnya Penyuluh Hindu, bisa aktif memberikan penguatan iman dan mental bagi warga binaan,” ujar Fais.
Salah seorang warga binaan, RH, juga mengaku terdorong untuk mulai membangun pola pikir yang lebih baik. Baginya, pelatihan tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan diri dapat dimulai dari dalam diri sendiri.
“Saya ingin membangun pikiran saya secara positif dan penuh cinta kasih,” kata RH.
Miyah menjelaskan, cinta kasih, welas asih, simpati dan keseimbangan batin merupakan bagian dari sifat-sifat luhur atau Brahmawihara. Nilai tersebut perlu terus digali agar tidak berhenti sebagai pemahaman, namun dapat terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Pada akhirnya, pikiran yang baik terfokus pada pandangan hidup dan diwujudkan melalui tindakan nyata. Bagi warga binaan, latihan tersebut dapat menjadi bekal untuk memperbaiki diri selama menjalani pelatihan sekaligus mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.