Buntok (Humas) – Pitra Yadnya bukan sekadar rangkaian ritual pemakaman. Bagi umat Hindu Kaharingan, pelaksanaannya juga menjadi bagian dari penghayatan ajaran agama dan pewarisan tradisi. Hal itu terlihat saat Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan Nurhati memberikan pelayanan keagamaan kepada keluarga Ny. Sapiun di Desa Marawan Baru, Selasa (15/9/2026).
Dalam pelayanan tersebut, Nurhati bertugas sebagai Mantir Basarah dalam prosesi pengantaran liau haring Kaharingan. Ia juga menyampaikan peneguhan iman kepada keluarga dan umat yang hadir dengan mengutip ajaran dalam Kitab Suci Bhagavadgita XVII.11.
Nurhati mengatakan kehadiran penyuluh dalam pelaksanaan Pitra Yadnya tidak hanya berkaitan dengan jalannya ritual, tetapi juga memberikan pendampingan rohani kepada umat.
“Peneguhan iman melalui ajaran Bhagavadgita menjadi bagian dari pelayanan kepada keluarga dan umat yang sedang melaksanakan Pitra Yadnya,” ujar Nurhati.
Menurut dia, ajaran agama tetap perlu disampaikan dalam kehidupan nyata umat, termasuk ketika mereka menjalankan ritual keagamaan. Dengan begitu, pelaksanaan tradisi tidak terlepas dari nilai-nilai keagamaan yang menjadi dasarnya.
“Pitra Yadnya menjadi bagian dari pengamalan ajaran Agama Hindu Kaharingan sekaligus cara umat menjaga tradisi yang telah diwariskan,” katanya.
Di sisi lain, Ketua MK-AHK Desa Reong Yuldi Permadi melihat pelaksanaan Pitra Yadnya sebagai bagian penting dalam kehidupan umat Hindu Kaharingan. Pendampingan bersama penyuluh agama dan lembaga keagamaan membuat keluarga dapat menjalankan rangkaian ritual sesuai tata keagamaan dan tradisi yang berlaku.
“Pitra Yadnya bukan hanya berkaitan dengan prosesi pemakaman, tetapi juga bagian dari tata keagamaan yang memiliki makna bagi keluarga dan umat. Karena itu, pelaksanaannya perlu tetap mengikuti ajaran dan tradisi yang diwariskan,” ujar Yuldi.
Ia berharap pemahaman terhadap tradisi Kaharingan terus diteruskan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, pengenalan tradisi tidak cukup hanya melalui pengetahuan, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
“Generasi muda perlu mengenal tradisi Kaharingan sejak dini. Dengan ikut melihat dan memahami pelaksanaan ritual seperti ini, mereka mengetahui bahwa tradisi tersebut merupakan bagian dari kehidupan keagamaan yang perlu dijaga dan diteruskan,” katanya.
Pelayanan Pitra Yadnya tersebut dilaksanakan oleh Nurhati didampingi staf Satker Bimas Hindu Kemenag Barsel bersama Pengurus MR-AHK Kecamatan Dusun Selatan dan MK-AHK Desa Reong.
Ritual berlangsung di rumah Suka Dharma, Desa Marawan Baru, dengan rangkaian pengantaran liau haring Kaharingan. Dalam pelaksanaannya, unsur penyuluh dan pengurus kelembagaan keagamaan turut mendampingi keluarga.
Bagi Kemenag Barsel, pelayanan seperti ini menjadi salah satu bentuk kehadiran penyuluh agama di tengah umat. Pendampingan dilakukan langsung dalam kehidupan keagamaan masyarakat, termasuk saat umat menjalankan ritual yang berkaitan dengan keluarga, keyakinan, dan tradisi.
Melalui Pitra Yadnya, ajaran keagamaan dan tradisi Hindu Kaharingan terus dijalankan dalam kehidupan umat. Pendampingan penyuluh bersama lembaga keagamaan juga memberi ruang agar pemahaman terhadap ritual tetap berjalan seiring dengan nilai-nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya.