Buntok (Humas) – Menjalani masa pembinaan bukan hanya soal mengikuti aturan, tetapi juga belajar mengendalikan diri. Pesan itu disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, Nurhati, saat memberikan pembinaan keagamaan kepada warga binaan di Rutan Kelas IIB Buntok, Senin (10/8/2026).
Dalam dharmawacana bertema Sad Ripu, Nurhati mengajak warga binaan mengenali enam sifat dalam diri manusia yang dapat menjadi penghalang untuk mencapai kehidupan yang tenteram jika tidak dikendalikan.
“Dalam diri manusia ada musuh-musuh yang harus dihindari atau dijauhi agar hidup ini menjadi tenteram dan nyaman. Enam musuh yang ada dalam diri manusia itu disebut Sad Ripu,” ujar Nurhati.
Ia menjelaskan, Sad Ripu terdiri atas Kama yang berarti nafsu atau keinginan, Krodha berarti marah, Lobha berarti loba atau tamak, Mada berarti mabuk, Moha berarti bingung, serta Matsarya yang berarti iri hati.
Menurut Nurhati, keenam sifat tersebut perlu dikenali karena dapat memengaruhi pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang. Pengendalian diri menjadi bagian penting agar seseorang tidak mudah dikuasai oleh dorongan negatif dalam dirinya.
“Dengan mengenali Sad Ripu, kita belajar melihat dan mengendalikan sifat-sifat yang ada dalam diri. Jangan sampai nafsu, kemarahan, ketamakan, kebingungan, atau iri hati justru menguasai kita,” katanya.
Pembinaan tersebut difasilitasi petugas Rutan Kelas IIB Buntok, Setiawan, yang memberikan ruang kepada penyuluh untuk melaksanakan bimbingan keagamaan kepada warga binaan berinisial RH.
Setiawan menyambut baik kegiatan penyuluhan yang dilakukan secara rutin karena warga binaan membutuhkan pendampingan keagamaan selama menjalani masa pembinaan.
“Kami senang penyuluh rutin datang memberikan penyuluhan kepada warga binaan. Kegiatan seperti ini sangat membantu karena mereka mendapatkan bimbingan dan penguatan secara rohani,” ujar Setiawan.
Sementara itu, RH mengaku kehadiran penyuluh memberikan rasa diperhatikan selama menjalani masa pembinaan. Baginya, bimbingan keagamaan menjadi ruang untuk mendapatkan kekuatan dan tidak merasa menghadapi proses tersebut seorang diri.
“Saya senang penyuluh hadir memberikan bimbingan. Saya merasa tidak sendiri dan mendapat penguatan dari penyuluhan yang diberikan,” ungkap RH.
Pembinaan keagamaan tersebut menjadi bagian dari pelayanan kepada warga binaan untuk tetap mendapatkan bimbingan sesuai keyakinannya. Materi Sad Ripu juga menjadi bahan refleksi agar warga binaan dapat mengenali diri, mengendalikan emosi dan keinginan, serta membangun sikap yang lebih baik.
Melalui pembinaan yang dilakukan secara rutin, nilai-nilai keagamaan diharapkan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dapat menjadi bekal bagi warga binaan dalam menjalani kehidupan selama berada di Rutan maupun ketika kembali ke tengah masyarakat.