Buntok (Humas) – Pembinaan keagamaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Buntok tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga mengajak warga binaan melihat kembali sikap dan pilihan hidupnya. Pesan itu disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan (Kemenag Barsel), Nurhati, melalui Dharma Wacana bertema “Cermin Diri”, Senin (28/9/2026).
Dalam pembinaan yang diikuti dua warga binaan berinisial R.H. dan T.H., Nurhati mengangkat ajaran Kitab Sarasamuccaya Sloka 303-304 sebagai bahan refleksi. Ajaran tersebut antara lain mengingatkan bahwa lingkungan pergaulan dapat memengaruhi diri seseorang, sementara pengetahuan membantu manusia mengenali dan mengendalikan sisi buruk dalam dirinya.
Nurhati mengajak warga binaan tidak hanya melihat kesalahan sebagai bagian dari masa lalu, tetapi menjadikannya bahan untuk mengenali diri dan menentukan sikap ke depan.
“Cermin diri bukan hanya melihat apa yang sudah kita lakukan, tetapi juga melihat apa yang harus diperbaiki. Dari sana seseorang bisa belajar menentukan langkah yang lebih baik,” kata Nurhati.
Menurutnya, proses memperbaiki diri membutuhkan kesadaran dari dalam. Pengetahuan dan pembelajaran keagamaan dapat menjadi bekal agar seseorang mampu mengenali kebiasaan yang kurang baik sekaligus membangun sikap yang lebih bijaksana.
“Setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Yang penting adalah kemauan untuk mengenali kekurangan dan berusaha mengendalikannya,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan Sarasamuccaya Sloka 303 yang menggambarkan bahwa pergaulan dengan orang yang tidak bijaksana dapat memengaruhi kualitas diri. Sementara Sloka 304 mengingatkan pentingnya mencari pengetahuan serta menyadari bahwa sisi buruk dalam diri sendiri juga perlu dikendalikan.
Pembinaan itu juga didampingi petugas Rutan Kelas IIB Buntok, Irfan. Kehadiran petugas turut memastikan kegiatan pembinaan keagamaan berjalan tertib sekaligus memberi ruang bagi warga binaan untuk mengikuti materi secara langsung.
Irfan menyampaikan bahwa pembinaan keagamaan menjadi salah satu ruang bagi warga binaan untuk mendapatkan penguatan selama menjalani masa pemasyarakatan.
“Pembinaan seperti ini memberi ruang bagi warga binaan untuk belajar, melakukan refleksi, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kembali ke masyarakat,” kata Irfan.
Ia berharap materi yang diterima tidak berhenti pada kegiatan di dalam Rutan, tetapi dapat menjadi bahan renungan yang dibawa warga binaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Apa yang dipelajari hari ini diharapkan bisa menjadi bekal untuk memperbaiki sikap dan mengambil keputusan yang lebih baik ke depannya,” ujarnya.
Pembinaan Dharma Wacana tersebut menjadi bagian dari pelayanan keagamaan bagi warga binaan Hindu di Rutan Kelas IIB Buntok. Melalui pendekatan keagamaan, warga binaan diarahkan untuk memiliki ruang refleksi sekaligus memperoleh bekal moral selama menjalani proses pemasyarakatan.
Bagi Nurhati, tema “Cermin Diri” pada akhirnya mengajak setiap orang untuk tidak hanya melihat keadaan di luar dirinya, tetapi berani memeriksa sikap, pikiran, dan tindakan sendiri. Dari refleksi itulah perubahan dapat dimulai.