Buntok (Humas) – Guru Pendidikan Agama Katolik dituntut tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga mampu menyampaikan nilai-nilai iman dengan cara yang mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Hal itu menjadi salah satu fokus dalam Workshop Kelompok Kerja Guru (KKG)/Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Katolik se-Kabupaten Barito Selatan yang digelar di Aula PUPR, Kamis (22/10/2026).
Salah satu narasumber, Andreas Sular, pensiunan guru Pendidikan Agama Katolik, membawakan materi bertajuk Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Pendidikan Agama Katolik. Pengalamannya selama bertahun-tahun sebagai pendidik menjadi bekal berharga bagi para peserta untuk memperbaiki cara mengajar di kelas.
Andreas dikenal sebagai guru senior yang menjunjung tinggi kedisiplinan dan memiliki pengalaman dalam mendampingi peserta didik. Kehadirannya tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi para guru untuk melihat kembali pentingnya keteladanan, kesabaran, dan tanggung jawab dalam menjalankan profesi pendidik.
“Menjadi guru bukan hanya soal menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga bagaimana membuat peserta didik memahami, menghayati, dan menerapkan apa yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Andreas Sular.
“Guru Pendidikan Agama Katolik harus terus belajar dan mengembangkan kemampuan diri. Pengalaman mengajar perlu menjadi bahan evaluasi agar kita semakin memahami karakter peserta didik dan mampu memilih metode pembelajaran yang tepat.
Bagi saya, kedisiplinan, keteladanan, dan kesabaran merupakan bagian penting dalam mendidik, karena tugas guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membimbing peserta didik dalam membangun sikap dan perilaku yang baik,” tambahnya
Kompetensi pedagogik menjadi salah satu kemampuan penting yang perlu terus dikembangkan guru. Kemampuan ini mencakup pemahaman terhadap karakter peserta didik, perencanaan pembelajaran, pemilihan metode mengajar, hingga penilaian hasil belajar.
Bagi guru Pendidikan Agama Katolik, kemampuan tersebut juga berkaitan dengan cara membimbing peserta didik agar nilai-nilai keagamaan dapat dipahami dan diterapkan secara nyata.
Workshop ini diharapkan menjadi kesempatan bagi para guru untuk bertukar pengalaman, mengevaluasi metode pembelajaran, serta memperoleh inspirasi dari perjalanan panjang seorang pendidik yang telah mengabdikan diri di bidang Pendidikan Agama Katolik.
Ketua Panitia Workshop KKG/MGMP Pendidikan Agama Katolik se-Kabupaten Barito Selatan, Erik Estrada, turut berperan dalam penyelenggaraan kegiatan yang diikuti sekitar 50 guru tersebut. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi para pendidik untuk belajar bersama dan membicarakan kebutuhan pembelajaran di sekolah masing-masing.
“Melalui workshop ini, kami berharap para guru mendapatkan tambahan pengetahuan dan semangat baru untuk mengembangkan kemampuan mengajar. Hasil kegiatan ini hendaknya dapat diterapkan dalam pembelajaran, sehingga peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik,” ujar Erik Estrada.
Menurut Erik, kegiatan KKG/MGMP juga memiliki arti penting bagi pengembangan profesional guru. Melalui forum tersebut, para guru dapat saling berbagi pengalaman, mendiskusikan persoalan yang dihadapi di kelas, dan mencari cara pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, H. Hairil Saleh Al Zainudin. Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Sandra Mariyus Adipa selaku Pembimas Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah, Pastor Aloysius Gonzaga Arjon Pastor Paroki Santo Paulus Buntok, serta Pengawas Pendidikan Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, Yuberto Adil.
Selain Andreas Sular, kegiatan ini menghadirkan narasumber dari unsur Kementerian Agama dan gereja. Kehadiran para narasumber diharapkan memberikan sudut pandang yang beragam bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran Pendidikan Agama Katolik.
Panitia pelaksana terdiri atas Erik Estrada sebagai ketua, Sepen Kristian sebagai sekretaris, dan Eri Susanti sebagai bendahara, bersama sejumlah anggota lainnya. Teresia bertugas sebagai pembawa acara, Silverius Sumadi memimpin doa pembuka, sedangkan doa makan dipimpin oleh Jaingandrei.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta mengikuti rangkaian acara dengan tertib dan antusias. Melalui workshop ini, guru Pendidikan Agama Katolik di Barito Selatan diharapkan semakin siap menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membantu membentuk karakter dan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.