Buntok (Humas) — Keberagaman agama dan kepercayaan di Indonesia menjadi kekuatan besar yang perlu dijaga bersama. Di tengah kondisi tersebut, kemampuan membaca gejala awal dan mencegah persoalan sebelum berkembang menjadi konflik menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan yang rukun.
Pesan itu disampaikan Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Kasi Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, H. Muhammad Irfan, saat menjadi pembina apel pagi di halaman Kantor Kemenag Barsel, Kamis (30/7/2026).
Dalam amanatnya, Irfan menyampaikan bahwa selama sepekan terakhir jajaran Kementerian Agama mengikuti sejumlah kegiatan melalui Zoom Meeting yang membahas penguatan Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini.
Ia menjelaskan, penerapan sistem tersebut berlandaskan Keputusan Menteri Agama (KMA) RI Nomor 332 Tahun 2023 tentang Sistem Peringatan Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan serta Keputusan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Nomor 108 Tahun 2026 tentang Petunjuk Teknis Aplikasi Early Warning System–Sistem Deteksi Dini Indonesia Rukun (EWS SIRUKUN).
Menurutnya, EWS menjadi pendekatan penting untuk mengenali potensi persoalan sejak awal, terutama dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang terdiri atas beragam agama, kepercayaan, suku, dan latar belakang.
“Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau dengan keberagaman agama dan kepercayaan. Keberagaman ini merupakan kekayaan, tetapi juga perlu dijaga agar tidak berkembang menjadi persoalan atau konflik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanganan persoalan setelah konflik terjadi membutuhkan biaya besar, waktu lebih panjang, serta memiliki risiko yang lebih luas. Karena itu, langkah pencegahan perlu dibangun sebelum persoalan berkembang.
“Kalau kita bertindak setelah kejadian, pendekatannya bersifat reaktif. Biayanya bisa mahal dan risikonya juga besar. Namun, melalui Early Warning System, kita dapat bersikap proaktif dengan mengenali tanda-tanda awal dan melakukan langkah pencegahan,” kata Irfan.
Menurutnya, pendekatan proaktif tidak hanya lebih efisien, tetapi juga dapat memberi dampak lebih luas bagi kehidupan masyarakat.
Karena itu, ASN Kementerian Agama diharapkan memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial di lingkungan masing-masing serta mampu menyampaikan informasi secara tepat melalui jalur yang tersedia.
Selain membahas EWS, Irfan mengajak seluruh pegawai untuk membangun pola pikir positif dalam menjalankan tugas dan kehidupan sehari-hari.
“Mari kita berpikir positif. Pikiran yang positif akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih bermakna, lebih cerah, dan mampu melihat persoalan dengan cara yang baik,” tuturnya.
Ia berharap pola pikir tersebut dapat diterapkan dalam pelayanan kepada masyarakat maupun dalam membangun hubungan kerja di lingkungan Kemenag Barsel.
Apel pagi tersebut diikuti jajaran ASN dan pegawai Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan. Bertindak sebagai komandan apel Qomarudin Fakhri, pembawa acara Badiatul Husniah, sedangkan pembacaan doa dipimpin Al Mubin.
Melalui penguatan pemahaman tentang EWS, jajaran Kemenag Barsel diharapkan semakin peka terhadap potensi persoalan di tengah masyarakat serta mampu mengedepankan langkah pencegahan demi menjaga kerukunan dan kehidupan yang damai.