Buntok (Humas) Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA, SMK, dan SKH di Kabupaten Barito Selatan mulai bergerak menyikapi perubahan Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) versi terbaru tahun 2026.
Pembinaan melalui MGMP PAI diarahkan agar guru tidak sekadar mengganti dokumen, tetapi benar-benar siap mengubah cara membaca kurikulum dan praktik belajar di kelas.
Pengawas Pendidikan, Mahmudin, menyebut perubahan CP, TP, dan ATP 2026 harus dipahami sebagai pembaruan arah pembelajaran. Guru diminta membaca ulang capaian tiap fase agar tujuan pembelajaran lebih tepat, runtut, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
“Perubahan ini jangan dipahami hanya sebagai revisi administrasi. CP harus dibaca sampai ke inti kompetensinya, lalu diturunkan menjadi TP dan ATP yang realistis untuk kondisi kelas,” kata Mahmudin.
Ia juga mengingatkan, guru PAI perlu lebih cermat menyusun alur pembelajaran. Menurutnya, ATP tidak boleh hanya menjadi dokumen pelengkap, tetapi harus menjadi peta jalan yang membantu guru mengatur materi, asesmen, dan penguatan karakter peserta didik.
“Kalau ATP disusun asal jadi, pembelajaran akan kehilangan arah. Guru harus tahu kompetensi apa yang dibangun, kapan diajarkan, bagaimana diukur, dan apa tindak lanjutnya,” ujarnya.
Sementara itu, Pengawas Pendidikan, Masdub, meminta MGMP PAI menjadi ruang kerja bersama. Ia menilai perubahan kurikulum akan lebih cepat dipahami jika guru tidak berjalan sendiri, tetapi menyusun perangkat ajar secara kolaboratif berdasarkan fase dan karakter sekolah masing-masing.
“MGMP harus menjadi tempat guru berdiskusi, menguji, dan memperbaiki perangkat ajar. Jangan ada guru yang tertinggal menghadapi perubahan CP, TP, dan ATP 2026,” kata Masdub.
Masdub juga mendorong guru PAI memanfaatkan hasil pembinaan ini untuk memperkuat pembelajaran yang lebih kontekstual. Nilai-nilai PAI, kata dia, perlu hadir dalam persoalan nyata yang dekat dengan kehidupan siswa, bukan berhenti pada hafalan materi.
“PAI harus terasa manfaatnya dalam perilaku peserta didik. Karena itu, TP dan ATP perlu disusun agar pembelajaran tidak kering, tetapi membentuk sikap, pemahaman, dan kebiasaan baik,” lanjutnya.
Sebagai tindak lanjut, MGMP PAI SMA/SMK dan SKH Kabupaten Barito Selatan akan menyusun pemetaan CP terbaru, merancang draft TP dan ATP per fase, serta membuka klinik perangkat ajar bagi guru. Targetnya jelas: saat kurikulum versi 2026 diterapkan, guru PAI sudah siap masuk kelas dengan arah pembelajaran yang lebih tajam dan terukur.