Buntok (Humas) – Pembelajaran di pasraman tidak cukup hanya menyampaikan materi di dalam kelas. Penyuluh Agama Hindu Kemenag Barito Selatan (Barsel), Miyah, mendorong guru Pasraman Panarawa Hintan Dharma di Desa Tanjung Jawa, Kecamatan Dusun Selatan, untuk membuat pembelajaran lebih menarik dengan memanfaatkan teknologi digital dan gamifikasi.
Hal tersebut disampaikan Miyah saat melakukan monitoring Pasraman Panarawa Hintan Dharma, Rabu (9/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, Miyah didampingi Operator Layanan Operasional, Jumrani.
Miyah memberikan apresiasi kepada Pasraman Panarawa Hintan Dharma yang tetap menjalankan kegiatan pembelajaran bagi anak-anak Hindu di tengah keterbatasan dukungan operasional.
“Apresiasi kami sampaikan kepada Pasraman Panarawa Hintan Dharma yang sampai saat ini tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran bagi anak-anak. Ini menunjukkan adanya kesungguhan guru dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di pasraman,” ujar Miyah.
Menurut Miyah, materi pembelajaran juga perlu disesuaikan dengan tingkat pendidikan peserta didik. Guru tidak bisa menggunakan pola pembelajaran yang sama untuk seluruh jenjang karena kebutuhan dan kemampuan anak berbeda.
“Guru-guru pasraman agar memberikan pembelajaran sesuai dengan tingkatannya, mulai dari Pratama Widya untuk TK A dan TK B, Adi Widya untuk tingkat SD, hingga Madyama untuk tingkat SLTP,” katanya.
Ia juga mendorong para guru mulai mengembangkan metode belajar yang memanfaatkan teknologi digital. Penggunaan materi digital dan gamifikasi dinilai dapat membuat anak lebih mudah terlibat dalam proses belajar.
Miyah mengatakan, inovasi tersebut tidak harus selalu menggunakan perangkat atau metode yang rumit. Guru dapat menyesuaikannya dengan kondisi dan fasilitas yang tersedia di pasraman.
Di sisi lain, Guru Pasraman Panarawa Hintan Dharma, Ramiti, menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan Miyah terhadap keberlangsungan kegiatan di pasraman tersebut.
“Terima kasih kepada Ibu PAH Miyah yang selama ini sudah banyak membantu dan mendukung Pasraman Panarawa Hintan Dharma,” ungkap Ramiti.
Ramiti mengatakan, selama dua tahun terakhir Pasraman Panarawa Hintan Dharma tidak mendapatkan bantuan operasional dari DIPA Bimas Hindu. Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat kegiatan belajar mengajar berhenti.
“Walaupun selama dua tahun berjalan ini kami tidak mendapatkan bantuan operasional dari DIPA Bimas Hindu, kami tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar di pasraman kami,” ujarnya.
Pasraman Panarawa Hintan Dharma berada di Desa Tanjung Jawa, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan. Kegiatan monitoring dilakukan untuk melihat pelaksanaan pembelajaran sekaligus mendengarkan kondisi yang dihadapi pengelola dan guru pasraman.
Bagi Miyah, keberlangsungan kegiatan belajar mengajar menjadi hal penting agar anak-anak Hindu tetap memperoleh pendidikan keagamaan sesuai dengan jenjangnya. Karena itu, selain menjaga kegiatan yang sudah berjalan, guru juga didorong terus mencari cara belajar yang sesuai dengan perkembangan anak dan teknologi.