Buntok (Humas) – Menghadapi ancaman puncak musim kemarau, Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan memilih pendekatan yang berbeda. Pesan pelestarian alam menggema dari mimbar ibadah Shalat Jumat di Masjid Besar Al Munawwarah Buntok, Jumat (24/7/2026), melalui khutbah bertajuk "Menjaga Amanah, Merawat Semesta: Pesan Ekoteologi Islam di Musim Kemarau."
Khutbah tersebut disampaikan Penyelenggara Zakat dan Wakaf (PZW) Kemenag Kabupaten Barito Selatan, H. Muhammad Sibawaihi. Meski kesehariannya mengurus urusan perzakatan dan wakaf, panggilan imannya mendorong ia mengingatkan umat bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi yang berkewajiban menjaga dan merawat alam sebagai amanah dari Allah SWT.
“Rasulullah SAW telah memberikan kaidah yang sangat tegas, 'Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.' Membakar hutan atau lahan, atau lalai hingga mengakibatkan kebakaran, jelas merupakan perbuatan dharar yang dilarang dalam agama,” ujar Ustadz Sibawaihi.
Menurutnya, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan sosial atau kepatuhan terhadap hukum, tetapi juga bagian dari tanggung jawab seorang muslim kepada Sang Pencipta.
Alam yang terpelihara akan memberi manfaat bagi kehidupan, sedangkan kerusakan akan mendatangkan mudarat bagi banyak orang.
“Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi. Amanah itu harus diwujudkan dengan merawat dan menjaga ciptaan-Nya, bukan justru merusaknya. Setiap ikhtiar menjaga alam bernilai ibadah,” katanya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, H. Hairil Saleh Al Zainudin, dihubungi saat disela kegiatannya mengatakan, penyampaian pesan lingkungan melalui khutbah Jumat merupakan langkah yang telah disiapkan sebagai upaya membangun kesadaran masyarakat menghadapi musim kemarau.
Khutbah Naskah bertema ekoteologi Islam bahkan telah disebarluaskan sehari sebelumnya kepada masjid-masjid di seluruh Barito Selatan.
“Berkaca dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, musim kemarau selalu membawa potensi Karhutla. Dampaknya tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengganggu kesehatan, perekonomian, hingga kehidupan sosial masyarakat,” ujar Hairil.
Ia menilai perlindungan terhadap lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam sehingga pendekatan spiritual dinilai relevan untuk membangun kepedulian masyarakat.
“Islam sangat menjunjung tinggi prinsip Hifz al-Bi'ah atau menjaga lingkungan. Karena itu kami menyusun dan menyebarkan naskah khutbah Jumat ini dengan pendekatan ekoteologi Islam agar masyarakat memahami bahwa menjaga alam adalah bagian dari syariat,” katanya.
Pesan yang disampaikan melalui mimbar Jumat tersebut mendapat respon positif dari jamaah. Salah satunya Arifin, yang mengaku memperoleh sudut pandang baru setelah mendengarkan khutbah Ustadz Sibawaihi.
“Sangat jarang saya mendengar khutbah Jumat yang mengimbau masyarakat menjaga lingkungan dengan pendekatan agama. Jumat ini merasakan saya sesuatu yang berbeda,” ungkapnya.
Menurut Arifin, selama ini ia menganggap menjaga lingkungan hanya berkaitan dengan urusan dunia. Namun penjelasan yang disampaikan khatib membuatnya memahami bahwa merawat alam juga merupakan bagian dari ibadah.
“Selama ini saya kira menjaga lingkungan hanya urusan dunia. Ternyata menurut penjelasan Ustadz Sibawaihi, merawat alam semesta adalah bagian dari agama dan bisa menjadi amal jariyah,” tuturnya.
Pendekatan keagamaan terhadap isu lingkungan yang dibawakan Ustadz Sibawaihi membuka pandangan baru bagi jamaah sekaligus memahami kesadaran masyarakat.
Melalui kerjasama yang baik antara pesan agama dan kepedulian terhadap lingkungan, Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan berharap masyarakat semakin peduli mencegah kebakaran hutan dan lahan serta bersama-sama menjaga kelestarian alam selama musim kemarau.