Buntok (Humas) Tim Pokja Pembangunan Zona Integritas (PMPZI) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan menyerap pengalaman KPPN Buntok dalam membangun Zona Integritas (ZI). Pembelajaran tersebut diperoleh melalui Sharing Session dalam rangka Island of Integrity KPPN Buntok.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi Tim Pokja Kemenag Barsel untuk mempelajari praktik pembangunan ZI, termasuk penguatan komitmen, strategi menuju WBK-WBBM, hingga teknis pelaksanaan enam area perubahan.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, H. Hairil Saleh meminta seluruh anggota Tim Pokja memanfaatkan kegiatan tersebut untuk menyerap ilmu dan pengalaman yang telah diterapkan KPPN Buntok.
“Serap ilmu dan pengalaman yang disampaikan. Apa yang sudah dilakukan KPPN, kita pelajari dan kita lihat mana yang bisa diterapkan di Kemenag Barsel,” ujar H. Hairil Saleh.
Menurutnya, pengalaman KPPN Buntok yang telah meraih predikat WBK menjadi bahan pembelajaran bagi Tim Pokja dalam memperkuat pembangunan ZI di Kemenag Barsel.
“Jangan hanya selesai di sharing session. Setelah ini harus ada yang dibawa pulang, dipelajari, kemudian diterapkan sesuai kebutuhan kita,” katanya.
Kepala KPPN Buntok, Bambang Sri Prastyono, membagikan tips dan trik menuju WBK dan WBBM. KPPN Buntok sendiri telah meraih predikat WBK sejak enam tahun lalu.
Ia menyampaikan, konsistensi menjadi bagian penting dalam mempertahankan perubahan dan meningkatkan kualitas layanan.
“Menuju WBK dan WBBM itu bukan pekerjaan menjelang penilaian. Harus konsisten dan terus diperbaiki,” kata Bambang.
Ia juga mengingatkan agar inovasi yang dibuat tidak hanya untuk memenuhi indikator, tetapi memberikan manfaat bagi pengguna layanan.
“Jangan sampai inovasi hanya bagus di atas kertas. Lihat manfaatnya dan pastikan masyarakat merasakan perubahan,” ujarnya.
Selanjutnya, Kepala Seksi Manajemen Satker dan Kepatuhan Internal (MSKI) KPPN Buntok, Seni Sumarno, membahas secara teknis pelaksanaan enam pokja pembangunan ZI.
Ia menjelaskan peran masing-masing pokja, penyusunan eviden, hingga keterkaitan antara program, proses perubahan, dan hasil yang dicapai.
“Enam pokja ini harus saling terhubung. Masing-masing punya peran dan harus mendukung tujuan pembangunan Zona Integritas,” jelas Seni.
Ia juga mengingatkan agar eviden tidak sekadar menjadi kumpulan dokumen, tetapi mampu menunjukkan perubahan yang benar-benar dilakukan.
“Pastikan ada proses, ada perubahan, dan ada hasil yang bisa dibuktikan,” tambahnya.
Pembelajaran dari KPPN Buntok selanjutnya ditindaklanjuti Kemenag Barsel sesuai kebutuhan, dengan Kasubbag TU Ismiradi bersama seluruh Tim Pokja PMPZI mendorong penguatan integritas, perbaikan tata kelola, dan peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat.