Buntok (Humas) – Pelaksanaan Pitra Yadnya di Desa Kayomban, Kecamatan Gunung Bintang Awai, Selasa (20/10/2026), menjadi ruang bagi umat Hindu untuk menjalankan bakti kepada leluhur sekaligus memahami nilai spiritual di balik tradisi tersebut. Penyuluh Agama Hindu (PAH) Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, Nurhati, bersama staf Bimas Hindu Miadi, hadir mendampingi umat melalui bimbingan keagamaan yang mengacu pada ajaran kitab suci.
Nurhati menyampaikan bahwa Pitra Yadnya tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ritual, tetapi juga mengandung nilai penghormatan, rasa terima kasih, dan tanggung jawab anak terhadap leluhur. Nilai-nilai tersebut perlu dipahami agar pelaksanaan tradisi keagamaan tidak berhenti pada tata cara, tetapi juga membentuk kesadaran spiritual umat.
“Pitra Yadnya merupakan wujud bakti kepada leluhur yang perlu dipahami maknanya secara mendalam. Melalui pelaksanaan ritual ini, umat diajak menyadari bahwa penghormatan kepada leluhur bukan sekadar tradisi yang diwariskan, melainkan bagian dari kewajiban moral dan spiritual yang perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Nurhati.
Ia juga mengaitkan pelaksanaan Pitra Yadnya dengan ajaran dalam Bhagavadgita sebagai salah satu pedoman umat Hindu. Pemahaman terhadap nilai-nilai kitab suci diharapkan membantu umat menghayati hubungan antara kewajiban, pengabdian, dan pelaksanaan dharma dalam kehidupan keluarga maupun bermasyarakat.
“Nilai yang terkandung dalam ajaran suci hendaknya menjadi pedoman dalam menjalankan kewajiban, termasuk menghormati orang tua dan leluhur. Dengan memahami landasan ajarannya, umat dapat melaksanakan Pitra Yadnya dengan penuh kesadaran, ketulusan, dan tanggung jawab, bukan hanya mengikuti rangkaian ritual yang telah menjadi kebiasaan,” tambahnya.
Dari sisi kelembagaan, pelaksanaan Pitra Yadnya turut dikoordinasikan bersama lembaga keagamaan Hindu setempat, yakni MD-AHK Kabupaten Barito Selatan, MR-AHK Kecamatan Gunung Bintang Awai, dan MK-AHK Desa Kayomban. Ketua MD-AHK Kabupaten Barito Selatan, Perli Mula, menyampaikan bahwa keterlibatan lembaga keagamaan diperlukan agar pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai dengan adat dan tuntunan keagamaan yang berlaku.
“Pelaksanaan Pitra Yadnya memerlukan keterlibatan umat, tokoh agama, dan lembaga keagamaan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menjaga tradisi yang diwariskan oleh generasi sebelumnya,” ujar Perli Mula.
Ia berharap nilai-nilai yang hidup dalam tradisi tersebut tetap dipahami dan diteruskan kepada generasi muda. Menurutnya, pemahaman terhadap adat dan ajaran agama perlu berjalan beriringan agar generasi penerus mengenal warisan leluhur sekaligus memahami makna yang mendasarinya.
“Generasi muda perlu mengetahui bahwa tradisi keagamaan memiliki nilai yang lebih dalam daripada sekadar pelaksanaan upacara. Dengan pendampingan keluarga, tokoh adat, dan tokoh agama, nilai penghormatan kepada leluhur dapat terus diwariskan tanpa kehilangan makna spiritualnya,” katanya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati atau Wakil Bupati Barito Selatan Kristianto Yudha, Camat Gunung Bintang Awai Armadi, Kepala desa setempat, unsur Polsek dan Koramil Kecamatan Gunung Bintang Awai, Damang Gunung Bintang Awai, Batamad Provinsi, Tokoh Adat, serta masyarakat Desa Kayomban.
Kehadiran penyuluh agama dalam kegiatan ini menjadi bagian dari pelayanan bimbingan keagamaan Kemenag Barsel kepada masyarakat. Melalui pendampingan langsung, nilai-nilai ajaran Hindu diharapkan semakin dipahami dan dijalankan dalam kehidupan keluarga serta lingkungan sosial.
Pelaksanaan Pitra Yadnya di Desa Kayomban pun menjadi pengingat bahwa penghormatan kepada leluhur tidak hanya diwujudkan melalui ritual, tetapi juga melalui penghayatan nilai-nilai luhur yang diteruskan dalam kehidupan sehari-hari.