Buntok (Humas) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan melalui Penyuluh Agama Hindu (PAH) terus mendorong penguatan kesiapan calon pengantin Hindu lewat pembinaan pra-nikah. Jum'at (10/7/2026).
Dalam kegiatan tersebut, sepasang calon pengantin dibekali pemahaman soal hakikat perkawinan dalam ajaran Hindu atau Pawiwahan. Materi tidak berhenti pada urusan administrasi, tetapi masuk ke kesiapan mental, spiritual, hingga kehidupan rumah tangga setelah menikah.
Pembinaan catin menjadi pintu awal untuk membangun rumah tangga yang kuat sejak sebelum akad dan upacara perkawinan dilangsungkan. Karena itu, materi yang diberikan disusun agar calon pasangan memahami makna perkawinan sebagai ikatan suci, bukan sekadar formalitas.
“Pernikahan dalam Hindu bukan sekadar penyatuan dua individu, melainkan yadnya suci dan ikatan dharma untuk membina kehidupan rumah tangga,” kata Penyuluh Agama Hindu, Miyah, saat menyampaikan materi.
Ia menyebut, pemahaman itu penting agar pasangan tidak hanya siap menjalani prosesi, tetapi juga siap menghadapi dinamika kehidupan setelah menikah. Menurutnya, rumah tangga yang dibangun di atas nilai dharma akan lebih kokoh menghadapi persoalan sehari-hari.
“Calon pengantin perlu memahami bahwa Pawiwahan adalah awal tanggung jawab bersama. Dari sini lahir komitmen, kesetiaan, dan kewajiban untuk menjaga keharmonisan keluarga,” ujarnya.
Selain aspek keagamaan, pembinaan juga mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan pasangan muda, mulai dari komunikasi dalam keluarga, pengelolaan emosi, manajemen rumah tangga, hingga kesehatan reproduksi. Materi ini dinilai penting untuk mencegah konflik yang kerap muncul pada masa awal pernikahan.
“Pernikahan adalah langkah awal dalam menapaki Grhastha Asrama. Kami membekali catin tidak hanya soal administrasi, tetapi juga kesiapan mental, spiritual, kesehatan reproduksi, serta komunikasi dalam keluarga agar terhindar dari konflik,” kata Penyuluh Agama Hindu, Nurhati.
Nurhati menambahkan, pembinaan semacam ini diharapkan memberi dampak jangka panjang, terutama dalam menekan angka perceraian dan membentuk generasi penerus yang lebih berkualitas. Menurut dia, keluarga yang sehat lahir dari pasangan yang paham peran, tanggung jawab, dan cara menyelesaikan persoalan bersama.
“Kalau sejak awal pasangan dibekali pemahaman yang utuh, peluang membangun keluarga yang rukun, mandiri, dan sejahtera tentu lebih besar,” tuturnya.
Kegiatan ditutup dengan penanaman pohon di area rumah ibadah Balai Basarah Isa Pakat Buntok sebagai wujud ekoteologi. Langkah ini menjadi penanda bahwa pembinaan keluarga tidak hanya bicara relasi suami-istri, tetapi juga tanggung jawab menjaga lingkungan sebagai bagian dari nilai hidup beragama.