Buntok (Humas) — Keberadaan Pasraman sebagai lembaga pendidikan Hindu nonformal menjadi perhatian dalam penelitian mahasiswa Program Pascasarjana Institut Agama Hindu Negeri Tampung Pengyang (IAHN-TP) Palangka Raya di Kabupaten Barito Selatan.
Untuk menggali kondisi dan perkembangan Pasraman, mahasiswi Program Studi Magister Pendidikan Agama Hindu, Kriani, melakukan wawancara dengan Penyuluh Agama Hindu Kemenag Barito Selatan, Miyah, serta Ketua Majelis Kelompok Agama Hindu (MK-AHK) Buntok Kota, Miadi, Senin (3/8/2026).
Wawancara tersebut dilaksanakan berdasarkan surat izin observasi dan penelitian dari Program Pascasarjana IAHN-TP Palangka Raya Nomor B-171/DIR.PS/PP.00.9/07/2026. Penelitian mengangkat judul “Eksistensi Pasraman sebagai Lembaga Pendidikan Hindu Nonformal di Kabupaten Barito Selatan.”
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Barito Selatan, Miyah, mengatakan Pasraman memiliki peran penting dalam memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai agama Hindu kepada generasi muda. Keberlanjutan Pasraman perlu didukung melalui keterlibatan bersama antara pengelola, tenaga pendidik, tokoh agama, orang tua, dan masyarakat.
“Pasraman bukan hanya tempat belajar tentang ajaran agama Hindu, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter, membangun disiplin, serta menumbuhkan pemahaman keagamaan sejak dini,” ujar Miyah.
Menurutnya, pembelajaran di Pasraman perlu terus menyesuaikan dengan kebutuhan generasi muda tanpa meninggalkan nilai-nilai dan ajaran Hindu yang menjadi dasar pendidikan.
“Pasraman yang berkelanjutan memerlukan perhatian bersama. Pembelajaran harus tetap menarik dan mudah dipahami agar anak-anak memiliki semangat untuk belajar serta menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dalam wawancara tersebut, Miyah juga menyampaikan informasi mengenai pelaksanaan pelatihan agama Hindu serta kondisi Pasraman di Kabupaten Barito Selatan. Data dan pengalaman di lapangan diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh bagi penelitian yang sedang dilakukan.
Program Mahasiswi Pascasarjana IAHN-TP Palangka Raya, Kriani, menjelaskan bahwa penelitian tersebut bertujuan menggali keberadaan dan peran Pasraman sebagai lembaga pendidikan Hindu nonformal di Kabupaten Barito Selatan.
“Penelitian ini ingin melihat bagaimana keberadaan Pasraman, berpartisipasi dalam pendidikan keagamaan Hindu, serta berbagai hal yang mendukung keberlangsungannya,” tutur Kriani.
Dikatakannya, informasi dari penyuluh agama dan tokoh keagamaan menjadi bagian penting untuk memahami kondisi Pasraman secara langsung. Data yang diperoleh akan digunakan sebagai bahan penyusunan tesis pada Program Studi Magister Pendidikan Agama Hindu.
“Kami berharap hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai keberadaan Pasraman di Barito Selatan dan menjadi bahan yang bermanfaat bagi pengembangan pendidikan agama Hindu ke depan,” ujarnya.
Selain Miyah, Ketua MK-AHK Buntok Kota Miadi turut menjadi narasumber dalam wawancara. Kegiatan tersebut juga membahas peran tokoh agama, pengelola Pasraman, serta tenaga pendidik dalam menjaga keberlangsungan pendidikan nonformal Hindu di daerah.
Melalui penelitian ini, kondisi Pasraman di Kabupaten Barito Selatan diharapkan dapat terdokumentasi secara akademik. Hasil penelitian juga diharapkan memberi bahan masukan bagi pengembangan pelatihan dan pendidikan agama Hindu yang berkelanjutan.