Buntok (Humas) — Kabut asap tidak menghentikan layanan pendidikan di RA Al-Hidayah Buntok. Di tengah penerapan Belajar Dari Rumah (BDR), Kepala Seksi Pendidikan Islam (Kasi Pendis) Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, Zakirurahman, turun langsung memantau kehadiran dan keaktifan para guru, Jumat (4/9/2026).
Selain memastikan aktivitas guru tetap berjalan, kunjungan tersebut juga menjadi ruang untuk membahas pelaksanaan kegiatan keagamaan yang perlu disesuaikan dengan kondisi udara yang masih dipenuhi kabut asap.
Zakirurahman mengapresiasi langkah Kepala RA Al-Hidayah Buntok, Rita Sholeh, yang segera berkonsultasi terkait pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, kegiatan keagamaan bagi anak usia dini tetap dapat dilaksanakan dengan bentuk yang menyesuaikan kondisi.
“Kami mengapresiasi inisiatif Ibu Rita Sholeh yang bergerak cepat mengonsultasikan hal ini agar kegiatan tetap bermakna meski dikemas dalam format pembatasan sosial,” ujar Zakirurahman.
Ia juga memberikan arahan agar pelaksanaan peringatan Maulid Nabi tidak mengabaikan kondisi darurat akibat kabut asap. Salah satu pilihan yang dapat digunakan adalah memanfaatkan platform digital sehingga kegiatan tetap dapat diikuti anak-anak tanpa harus berkumpul.
“Kesehatan anak-anak dan para guru adalah prioritas utama kita saat ini akibat kabut asap. Namun, kreativitas dalam memberikan stimulasi pendidikan agama, seperti momen Maulid Nabi, tetap harus berjalan,” katanya.
Sementara itu, Kepala RA Al-Hidayah Buntok, Rita Sholeh, memanfaatkan kunjungan tersebut untuk berkonsultasi langsung dengan Kasi Pendis mengenai teknis pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Konsultasi dilakukan agar kegiatan tetap sesuai dengan kondisi BDR yang sedang berlangsung.
“Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk berkonsultasi langsung dengan Kasi Pendis mengenai teknis pelaksanaan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW,” kata Rita.
Rita mengatakan kondisi udara yang masih diselimuti kabut asap tebal membuat pihak RA perlu mencari bentuk kegiatan yang tidak mengharuskan anak-anak dan guru berkumpul. Syiar keagamaan tetap diupayakan tersampaikan, namun keselamatan dan kesehatan tetap menjadi pertimbangan utama.
“Mengingat kondisi udara yang masih diselimuti kabut asap tebal dan aturan BDR yang berlaku, kami mencari solusi terbaik agar syiar keagamaan tetap dapat tersampaikan kepada anak-anak tanpa mengabaikan faktor keselamatan kerja dan kesehatan,” ujarnya.
Selama BDR, aktivitas pembelajaran tatap muka dialihkan ke rumah untuk mengurangi risiko paparan kabut asap terhadap peserta didik. Meski demikian, para guru RA Al-Hidayah tetap menjalankan tugas dengan memantau perkembangan anak didik melalui komunikasi dan pembelajaran secara daring.
Monitoring tersebut sekaligus memastikan tenaga pendidik tetap aktif menjalankan layanan pendidikan di tengah keterbatasan akibat kondisi lingkungan. Dengan pola kegiatan yang menyesuaikan keadaan, pendidikan anak usia dini di RA Al-Hidayah tetap berjalan tanpa mengesampingkan kesehatan peserta didik maupun guru.