Buntok (Humas) Membaca Al-Qur’an belum cukup hanya lancar. Ketepatan makhraj dan kaidah bacaan juga perlu diperhatikan. Hal inilah yang coba dibenahi DWP Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan melalui program Tahsin Al-Qur’an.
Kegiatan yang digelar rutin setiap pekan itu kembali berlangsung di Mushola Al Barakah MTsN Barito Selatan, Rabu (19/8/2026). Pesertanya pengurus, anggota DWP, serta anggota luar biasa yang terdiri dari ibu-ibu guru dan karyawati di lingkungan Kemenag Barsel.
Ketua Bidang Pendidikan DWP Kemenag Barsel, Ny. Hj. Tintin Kusumaningtyas Ahmad, mengatakan tahsin dibuat sebagai ruang belajar bersama agar anggota bisa mengetahui sekaligus memperbaiki kesalahan dalam membaca Al-Qur’an.
“Kadang kita merasa sudah bisa membaca, tetapi masih ada bacaan yang perlu diperbaiki. Di sinilah kita belajar bersama, supaya bacaan kita semakin baik dan benar,” ujarnya.
Pembelajaran tidak hanya dilakukan dengan teori. Peserta juga mendapat bimbingan langsung dari Muhammad Hamdani, S.Pd.I sebagai ustadz pembimbing. Pola ini membuat peserta bisa langsung mengetahui bagian bacaan yang perlu diperbaiki.
“Yang kita harapkan bukan hanya hadir setiap minggu, tetapi ada perubahan dari bacaan masing-masing anggota,” katanya.
Ketua DWP Kemenag Barsel, Ny. Asy Noorhasyanah Hairil Saleh, mengatakan manfaat tahsin diharapkan tidak berhenti di lingkungan organisasi. Kemampuan yang diperoleh anggota juga bisa diterapkan saat mendampingi keluarga di rumah.
“Kalau kemampuan membaca Al-Qur’an ibu-ibu semakin baik, tentu akan membawa pengaruh ke keluarga. Apa yang dipelajari di sini bisa dilanjutkan bersama anak-anak di rumah,” ujarnya.
Karena itu, DWP Kemenag Barsel memilih menjadikan tahsin sebagai program yang berkelanjutan, bukan sekadar agenda sesaat.
“Harapannya kegiatan ini terus berjalan dan manfaatnya semakin terasa, bukan hanya untuk anggota DWP, tetapi juga untuk keluarga masing-masing,” sambungnya.
Program ini menjadi bagian dari rencana kerja Bidang Pendidikan DWP Kemenag Barsel 2026. Ukuran keberhasilannya pun sederhana: bukan seberapa sering kegiatan digelar, tetapi seberapa banyak bacaan yang berhasil diperbaiki dari pekan ke pekan.