Buntok (Humas) Pembelajaran anak usia dini tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Setiap anak memiliki karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan berbeda yang perlu dipahami guru. Hal inilah yang menjadi perhatian Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan dalam lanjutan Pertemuan Kedua Pelatihan Berkelanjutan Pembelajaran Inklusi Adaptif Usia Dini jenjang PAUD/RA binaan DWP.
Ketua DWP Kemenag Barito Selatan, Ny. Asy Noorhasyanah Hairil Saleh, menyampaikan bahwa pemahaman terhadap karakteristik setiap anak menjadi bagian penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang inklusif. Guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi, tetapi juga mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.
"Setiap anak memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, guru perlu memahami kebutuhan masing-masing anak agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan semua anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang," ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran inklusif perlu diwujudkan melalui pendekatan yang memberikan ruang bagi seluruh anak untuk belajar, berpartisipasi, dan mengembangkan potensinya. Peran guru menjadi penting dalam membangun lingkungan belajar yang ramah, nyaman, dan tidak membatasi kemampuan anak.
"Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti pada pemahaman teori saja, tetapi dapat diterapkan oleh para guru dalam kegiatan belajar sehari-hari di RA binaan DWP," tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi dari Joko Priyono, S.Pd, yang membahas strategi pembelajaran inklusi adaptif pada pendidikan anak usia dini. Ia menjelaskan bahwa guru perlu memahami perbedaan kecepatan belajar, karakter, serta kebutuhan setiap anak sebelum menentukan pendekatan pembelajaran.
"Dalam pembelajaran anak usia dini, guru perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kecepatan belajar, karakter, dan kebutuhan yang berbeda. Pendekatan pembelajaran tidak bisa disamaratakan," jelas Joko.
Ia juga mengajak para guru untuk membangun suasana belajar yang aman dan menyenangkan agar setiap anak memiliki kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Penyesuaian metode menjadi salah satu langkah penting agar materi dapat diterima sesuai kemampuan peserta didik.
"Guru perlu menciptakan suasana belajar yang aman, menyenangkan, dan memberikan ruang bagi setiap anak untuk berpartisipasi. Metode pembelajaran juga harus disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan anak," tuturnya.
Melalui pendekatan adaptif, guru diharapkan mampu mengenali potensi sekaligus hambatan yang dihadapi peserta didik. Dengan begitu, pendampingan yang diberikan dapat lebih tepat sasaran dan proses pembelajaran berjalan lebih optimal.
Kegiatan ini diikuti jajaran pengurus dan anggota DWP Kemenag Barito Selatan serta 50 peserta yang terdiri dari guru RA binaan DWP Kemenag Barito Selatan, RA Al Hidayah, dan Perwanida Buntok.
Pelatihan berkelanjutan ini diharapkan tidak sekadar menambah wawasan tenaga pendidik, tetapi juga membawa perubahan dalam praktik pembelajaran di kelas. Sebab, pendidikan inklusif sejak usia dini dimulai dari kemampuan guru memahami bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.