BUNTOK – Ritual kematian Agama Hindu Kaharingan Wara Nyalimat di Desa Lembeng, Kabupaten Barito Selatan, menjadi ruang nyata bagi kebebasan beragama sekaligus penguatan toleransi. Puncak ritual yang digelar Minggu (12/7/2026) dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan melalui Kasi Bimas Islam, H. Muhammad Irfan, bersama Wakil Bupati Barito Selatan, unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat.
Kehadiran Kementerian Agama dalam prosesi penusukan dua ekor kerbau sebagai hewan kurban dinilai menjadi bentuk dukungan negara terhadap pelaksanaan ibadah setiap pemeluk agama sesuai keyakinannya.
H. Muhammad Irfan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menjaga kelancaran rangkaian ritual sejak 6 hingga 13 Juli 2026. Menurutnya, sinergi pemerintah, aparat keamanan, panitia, dan masyarakat membuat prosesi adat berlangsung aman dan tertib.
"Terima kasih kepada seluruh pihak, baik pemerintah, kepolisian maupun masyarakat yang telah mendukung sehingga ritual adat ini berjalan aman dan lancar. Secara khusus kami mengapresiasi Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan Kabupaten Barito Selatan yang terus menjaga pelaksanaan kegiatan keagamaan sesuai tata cara peribadatan serta menjunjung tinggi toleransi terhadap pemeluk agama lain," ujar Irfan.
Ia menambahkan, kehadiran Kementerian Agama dalam prosesi ritual menjadi bagian dari dukungan terhadap kebebasan masyarakat menjalankan ajaran agama masing-masing.
"Kami berharap MD-AHK Barito Selatan terus melaksanakan ritual keagamaan dengan semangat persaudaraan. Jadikan Wara Nyalimat sebagai pesan bahwa bumi Dahani Dahanai adalah Milik Semua Pemeluk Agama, yang memberi ruang bagi seluruh masyarakat untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing," katanya.
Ketua Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK) Kabupaten Barito Selatan, Perli Mula, mengatakan Wara Nyalimat merupakan ritual kematian tingkat puncak yang memiliki makna penyucian arwah leluhur sebagai bentuk bakti keluarga kepada mereka yang telah mendahului.
"Kami menyampaikan terima kasih kepada Sumarita selaku tuan rumah kegiatan. Wara Nyalimat merupakan ritual penyucian arwah leluhur sebagai wujud bakti keluarga kepada orang-orang yang telah mendahului," ujar Perli.
Menurutnya, besarnya pelaksanaan ritual tahun ini menunjukkan kuatnya kebersamaan masyarakat. Sebanyak 62 desa diundang mengikuti kegiatan tersebut dan ritual diikuti oleh 47 kepala keluarga inti.
"Ritual sebesar ini dapat berjalan lancar karena dukungan banyak pihak, termasuk Kementerian Agama Barito Selatan melalui Bimas Hindu yang selama ini terus memberikan dukungan moril kepada kami," tuturnya.
Puncak Wara Nyalimat pada 12 Juli 2026 ditandai dengan prosesi penusukan dua ekor kerbau sebagai persembahan keluarga kepada leluhur yang telah disucikan. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak 6 Juli dan berakhir pada 13 Juli 2026.
Sejumlah pejabat dan tokoh yang hadir antara lain Wakil Bupati Barito Selatan Kristianto Yudha, anggota DPRD Barito Selatan, Ketua DAD Barito Selatan, Ketua MD-AHK Barito Selatan, Ketua MR-AHK Dusel, Ketua PHDI Barito Selatan, jajaran Kodim 1012/Buntok, penyuluh Hindu beserta staf Kantor Kementerian Agama Barito Selatan, serta tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat.
Ritual Wara Nyalimat tahun ini tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian tradisi keagamaan Hindu Kaharingan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kehidupan beragama di Barito Selatan berjalan berdampingan dalam suasana saling menghormati dan penuh persaudaraan.