Buntok (Humas) – Memperbaiki diri dimulai dari keberanian bertanggung jawab atas iman, keputusan, dan tindakan sendiri. Pesan inilah yang dibawa Penyuluh Agama Kristen saat memberikan pembinaan rohani kepada warga binaan di Lapas Kelas IIB Buntok, Rabu (21/10/2026), melalui tema “Tanggung Jawab” berdasarkan Galatia 6:2 dan Galatia 6:15.
Dalam penyampaian materi, Eko Wahyudi mengajak warga binaan memahami bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab atas kehidupan yang dijalaninya. Kesalahan masa lalu bukan alasan untuk berhenti berubah, melainkan bahan untuk belajar dan memperbaiki diri.
“Setiap orang perlu belajar bertanggung jawab atas iman dan kehidupannya. Kita harus berani melihat kekurangan diri, memperbaiki kesalahan, serta belajar mengambil keputusan yang lebih baik. Ujar Eko
Eko juga menjelaskan bahwa keselamatan dalam ajaran Kristen bukan diperoleh semata-mata melalui hukum Taurat, melainkan karena kasih karunia Allah. Karena itu, iman perlu diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari, termasuk kesediaan untuk mengakui kesalahan dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Melalui Galatia 6:15, warga binaan diajak memahami bahwa yang utama bukan sekadar hal-hal lahiriah, melainkan perubahan hidup yang tercermin dalam diri seseorang. Pemahaman ini diharapkan mendorong peserta untuk tidak berhenti pada penyesalan, tetapi melanjutkannya dengan langkah nyata.
“Perubahan hidup perlu terlihat dalam tindakan. Tanggung jawab bukan hanya tentang mengakui kesalahan, tetapi juga kemauan untuk memperbaiki diri dan menjalani kehidupan dengan lebih baik,” demikian pesan yang disampaikan dalam materi penyuluhan.
Selain tanggung jawab pribadi, Eko mengajak warga binaan memahami pentingnya kepedulian terhadap sesama melalui Galatia 6:2. Ayat tersebut mengajarkan setiap orang untuk saling menanggung beban, membantu mereka yang menghadapi kesulitan, serta tidak membiarkan sesama berjuang sendirian.
Setiap manusia memiliki kelemahan dan kelebihan. Karena itu, sikap saling menghargai, memberi dukungan, dan membantu satu sama lain menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang lebih baik, termasuk selama menjalani masa pembinaan.
Petugas Rutan yang turut mengikuti kegiatan tersebut mengapresiasi pelaksanaan penyuluhan rohani bagi warga binaan. Menurutnya, pembinaan keagamaan dapat membantu peserta memperkuat iman, menyadari tanggung jawab pribadi, serta menumbuhkan kepedulian terhadap orang lain.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin agar warga binaan memiliki bekal rohani dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Kegiatan penyuluhan berlangsung dengan pujian yang dipimpin Yemima Pisi, sedangkan doa-doa dipimpin Delita Wati Manullang. Petugas Rutan turut mendukung pelaksanaan kegiatan sebagai bagian dari pembinaan bagi warga binaan.
Melalui pembinaan ini, warga binaan diharapkan mampu menerapkan nilai tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam menjaga iman, menyikapi persoalan, maupun memperlakukan sesama. Bekal tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses perubahan diri sebelum mereka kembali ke tengah masyarakat.